Sabtu, 14 Desember 2013

Find you

"Hai"
Seketika aku menoleh ke belakang, mencari asal suara itu. Dan aku menemukannya, dia tersenyum sedih saat melihatku. Dia masih tetap sama walau ada yang berubah pada dirinya. Matanya yang cokelat pekat tapi menyiratkan kepedihan, rahangnya yang sedikit tirus, badannya tegap namun terlihat lebih kurus sejak terakhir kali aku melihatnya beberapa bulan yang lalu.
"hai" balasku mencoba tersenyum tulus padanya.
"masih suka baca novel romance?" tanyanya seraya mengambil salah satu novel romance dari rak buku dan menyerahkan padaku. Pandangan mataku tidak lepas dari matanya. Mencoba menelisik apa maksud dia dari pandangan matanya tapi aku tertegun saat yang aku lihat menyiratkan sebuah kesedihan.
"ya, karna itulah aku disini" aku mengalihkan pandanganku ke novel yang dia berikan. Mencoba menetralisir hatiku yang berubah seketika.
"kamu gak berubah. Tapi aku bersyukur, karna itulah kita bertemu disini. Aku mencoba mencarimu kesini hampir setiap hari"
Aku tertegun, hampir setiap hari? Aku melihat ke sekeliling, dan pada akhirnya mataku bertemu dengan matanya. Ya dari dulu aku memang suka membaca buku bahkan bisa dibilang hampir setiap weekend aku akan datang ke toko buku ini menghabiskan setengah hari hanya untuk sekedar membaca ataupun membelinya jika aku ingin sekali memilikinya. Dan pria yang ada dihadapanku ini dialah orang yang bersedia menemani setengah harinya denganku hanya untuk berdiam diri di toko buku ini. Dialah yang selalu ada buatku, yang benar-benar mengerti hati dan perasaaanku, dia yang sangat mencintaiku tapi sayangnya kisah kita sudah berakhir. Mengingat hal itu membuat dadaku sakit, sesak, entah apa namanya ini. Aku mencoba tersenyum kearahnya karna aku sadar dia terus melihatku.
"buat apa kamu mencariku? Bukankah semuanya sudah selesai?"
"buatku semua belum selesai. Dewasalah Callista, ada apa sebenarnya? Kamu memutuskan hubungan kita, tidak mau menjawab telponku atau sekedar membalas pesan yang selalu aku kirimkan padamu selama beberapa bulan ini. Kamu pergi entah kemana, kamu menghindari aku. Kenapa?"
Tuhan, aku tak sanggup melihatnya. Dari nada bicaranya aku tahu dia amat sangat terluka, amat sangat menderita. Aku harus bagaimana? Aku masih mencintainya dan menginginkan yang terbaik untuknya, aku sudah bertekad untuk menghindarinya demi kebaikannya tapi semua rencana yang sudah tersusun rapi dalam otakku buyar saat melihatnya menderita.
"Kenapa?" ulangnya lebih parau. Kenapa? Kenapa Callista kamu tega meninggalkan pria sebaik dia? Kenapa kamu tega menyakitinya setelah apa yang dia lakukan padamu? Dia yang paling mengerti kamu, dia yang selalu ada disampingmu, dia yang selalu menyemangatimu, dia yang selalu mengerti kamu, dia yang selalu mengalah agar kamu bahagia. Callista kamu memang wanita paling jahat!
"steve, ini tempat umum. Tidak baik membicarakan masalah pribadi di tempat umum seperti ini. Aku mau pulang. Permisi" Aku menaruh kembali novel yang kupegang ke rak buku dan mencoba pergi dari tempat ini. Bagaimanapun aku harus pergi dari sini, aku harus tetap pada pendirianku.
"bagaimana mungkin setelah aku menemukanmu aku akan kehilanganmu lagi Callista? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Tidak akan!" steve menatap tajam kearahku dan mencengkram kuat tanganku. Aku sampai meringis kesakitan karna cengkramannya yang kuat.
"lepaskan steve! Aku tidak mau kita menjadi tontonan orang-orang disini"
Steve menyeretku mengikuti langkah kakinya yang besar. Aku sampai harus meringis menahan sakit akibat perbuatannya ini. Steve membawaku ke parkiran, memaksaku masuk kedalan mobilnya.
"Apa yang kamu...." ucapanku terhenti saat steve memeluk diriku dengan begitu posesif.
"Jangan pergi lagi Callista" suaranya terdengar begitu parau dan tercekat. Bahkan aku bisa merasakan bahunya bergetar. Ya tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana? Aku memejamkan mataku membalas memeluknya dan meresapi setiap cinta kasih yang dia rindukan. Harus kuakui aku begitu merindukannya. 4 bulan lamanya aku menghindarinya. Selama itu aku bagai mayat hidup, aku tidak tahu lagi dimana nyawaku, dimana gairahku, dimana semangatku. Yang aku tahu aku sudah menganggap dunia ini tidak berarti, aku bisa merasakan tertawaku hambar. Air mataku mulai menetes, aku merasakan sakit itu lagi. Aku melepaskan pelukannya. Dia terlihat bingung dengan tingkahku.
"ada apa Callista? Aku tahu kamu merindukanku juga. Lalu kenapa?"
"aku tidak bisa steve, maaf" ujarku lirih melihat kedua tanganku yang saling mengepal.
"Steve, kamu begitu sempurna. Bagaimana bisa aku bersanding menyamaimu? Aku ingin yang terbaik untukmu, steve. Dan yang terbaik untukmu bukanlah aku. Sadarlah itu steve, lupakan aku. Carilah wanita lain yang pantas bersanding denganmu" aku mencoba sekuat tenaga berkata sekuat mungkin. Menahan air mataku agar tidak jatuh. Bagaimanapun kamu harus kuat Callista.
"apa menurutmu aku tidak pantas untukmu Callista? Lalu aku harus apa agar aku bisa layak bersanding denganmu? Katakan Callista! Katakan!" Steve mengguncang-guncang bahuku, cengkraman tangannya begitu kuat. Seketika air mataku jatuh, aku tidak sanggup membendungnya lebih lama lagi. Aku menunduk dan menyembunyikan wajahku dengan kedua tanganku. Steve yang melihat langsung membawa tubuhku kedalan pelukannya.
"maafkan aku Callista, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku mencintaimu Callista. Maafkan aku"
"aku tidak pantas untukmu steve, setelah kamu memperkenalkan aku ke keluargamu. Disitulah aku seperti bercermin siapa aku? Apa aku pantas untukmu?"
"ada apa dengan keluargaku Callista? Apa kamu tidak menyukai mereka?" tanya steve hati-hati. Aku menggeleng perlahan. Tidak mungkin aku tidak menyukai keluarganya. Mereka benar-benar sempurna, sebuah keluarga yang diimpikan semua orang.
"keluargamu begitu sempurna steve, keluargaku lah yang tidak sempurna. Steve, papa mau menikah lagi" ucapku hati-hati. Bisa kulihat wajah steve berubah terkejut tapi tak lama karna setelah itu dia mempererat pelukannya kepadaku.
"karna itu alasanmu?"
"ya, itu salah satunya. Aku tidak tahu steve apa yang akan orang tuamu katakan jika mereka tahu papa menikah lagi apalagi dengan adanya istri yang masih sangat setia disisinya. Aku juga tidak tahu kenapa mama bisa sesabar ini, menerima keputusan papa menikah lagi. Selain itu kamu tahu keluarga dari papa tidak ada yang benar semua. Aku malu steve. Aku malu" tangisku pecah membasahi kemejanya. Dia kembali mempererat pelukannya dan mencium keningku. Aku tahu dengan aku mengatakan ini kepada steve pasti dia akan meninggalkan aku. Tapi aku akan mengingat harumnya, mengingatkan pelukannya ini.
"aku tidak peduli Callista. Jika seisi dunia ini pun menentang hubungan kita, aku tidak peduli!" Aku terperangah mendengar ucapannya. Aku menongakkan kepalaku dan melihatnya tersenyum tulus, bahkan aku bisa melihat binar kesedihan digantikan dengan binar bahagia dimatanya. Kami saling diam selama beberapa menit sampai akhirnya dia terkekeh pelan dan memelukku kembali.
"dengar Callista, aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak peduli dengan keluargamu, dengan keluargaku jika mereka menentang hubungan kita. Kita sudah bersama selama 5 tahun Callista, sudah merancang masa depan kita berdua. Janganlah kita menyerah hanya karna hal ini"
"tapi Steve, apa pandangan tentang keluargamu nanti jika melihat seorang ayah yang menikah untuk kedua kalinya disaat istrinya masih hidup, masih setia disampingnya, disaat anak gadisnya berumur 24 tahun yang sudah saatnya untuk menikah?!" aku mulai berteriak frustasi kepadanya. Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia bisa sesantai ini menanggapi apa yang barusan aku bicarakan dengannya.
"Callista, aku sudah bilang aku memilihmu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku tidak peduli apa pandangan orang tentang kita. Cinta ini kita yang rasa dan kita yang menjalaninya. Kenapa kita harus takut, pusing, memikirkan apa pendapat orang? Dengar, cinta ini kita yang rasa, kita yang menjalaninya" aku tertegun mendengar jawabannya. Ya Callista kenapa baru sekarang kamu tersadar? Kenapa kamu harus pusing-pusing memikirkan pendapat orang lain? Aku ternyum tulus kepadanya, entah mengapa hatiku sekarang terasa lebih ringan, seperti telah membuang sesuatu yang amat sangat berat. Yang aku rasakan kini, rasa bahagia melingkupi hatiku, hangatnya tubuh steve yang memelukku dengan sangat penuh kasih.
"aku sudah menemukanmu Callista. Jangan pergi lagi. Aku mencintaimu"
"ya Steve. Aku mencintaimu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar